Mempertimbangkan Uang dan Kebahagiaan dari Perspektif Etika Aristoteles
DOI:
https://doi.org/10.54371/jiip.v8i12.10331Abstract
Umumnya orang beranggpan bahwa memiliki banyak uang akan mendatangkan kekayaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Karena banyaknya uang yang dimiliki memungkinkan seseorang membeli apa saja yang ia inginkan. Aristoteles menegaskan bahwa cara saya memperoleh uang dan kekayaan menentukan kebahagiaan saya. Uang dan kekayaan yang diperoleh dengan menerapkan prinsip-prinsip kebajikan etis seperti keunggulan (excellence), kebijaksanaan praktis, adil, mengaktualisasikan segenap potensi diri yang dimiliki, dan sebagainya justru mendatangkan kebahagiaan. Uang dan kekayaan hanyalah salah satu faktor yang mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati ditentukan bukan hanya oleh kehidupan material (pekejaan, tekanan, pendapatan), kehidupan postmaterial (keluarga, spiritualitas, lingkungan, dan aktvitas komunitas), melainkan juga pada kehidupan publik (kesehatan, fasilitas umum, kualitas lingkungan hidup yang sehat, dan sebaainya) justru berkontribusi pada kebahagiaan. Mencari dan mengumpulkan uang secara rakus dengan bertindak tidak adil, bukan sarana yang tepat dalam mencapai kebahagiaan. Bagi Aristoteles, kebahagiaan sesungguhnya bukan pada kenikmatan dan kesenangan yang diberikan oleh uang melainkan pada pencapaian pertumbuhan hidup pribadi dan karakter moral sebagai realisasi diri. Aristoteles juga menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan dialami dalam konteks pribadi-individual melainkan juga dalam konteks sosial. Penelitian kepustakaan dengan menggunakan content analysis ini mengeksplorasi pemikiran etika Aristoteles tentang uang dan kebahagiaan tersebut. Di tengah berkecamuknya pandangan hidup yang sangat ekonomis, empiristik, dan materialistik, perspektif etis Aristoteles yang holistik khas filsafati membantu mengungkap kedalaman refleksi filsafat tentang uang dan kebahagiaan yang semakin terlupakan.







